Bantaeng – Lembaga Amil Zakat Infak dan Sadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Bantaeng sukses mengawal agenda kemanusiaan sepanjang Ramadan 1447 H. Tercatat, belasan juta rupiah dana umat berhasil dihimpun dan langsung disalurkan melalui berbagai program kreatif yang menyentuh masyarakat secara langsung.
Ketua Lazismu Bantaeng, Muhammad Taqwin mengungkapkan bahwa total dana yang terhimpun mencapai Rp 17.540.200. Angka tersebut merupakan akumulasi dari berbagai instrumen filantropi Islam, mulai dari zakat fitrah, zakat mal, dan sejumlah infak program tematik.
“Total zakat fitrah yang terhimpun mencapai 592 liter beras atau setara Rp 5.920.000. Selain itu, ada zakat mal sebesar Rp 8.630.000, infak tebar takjil Rp 1.600.000, serta infak umum senilai Rp 1.390.200,” ujar Taqwin usai melaksanakan salat idulfitri, Jumat, 20 Maret 2026.
Tak sekadar menghimpun dana rutin, Lazismu Bantaeng mengemas Ramadan tahun ini dengan fokus pada tiga program: Kado Ramadan, Tebar Takjil, dan Paket School Kit. Taqwin menuturkan, ketiganya adalah program nasional yang diputuskan Lazismu Pusat saat rapat koordinasi, beberapa hari sebelum Ramadan tiba.
Khusus untuk Paket School Kit, Lazismu bergerak taktis dengan menggandeng SDS Muhammadiyah Bantaeng dan Masjid Darul Muttaqin guna memastikan bantuan pendidikan tersebut tersalur ke tangan yang tepat.
Penyaluran paket School Kit pertama di SDS Muhammadiyah Bantaeng berlangsung pada Jumat, 6 Maret 2026, dengan menggandeng sejumlah pihak, termasuk Angkatan Muda Muhammadiyah Bantaeng, yang dirangkaikan dengan Tabligh Akbar dan Buka Puasa Bersama.
“Program School Kit ini diluncurkan untuk meringankan beban ekonomi keluarga yang kurang mampu. Kita ingin anak-anak tetap semangat belajar tanpa khawatir kekurangan perlengkapan sekolah,” tutur Taqwin saat sambutan kala itu. Menurut dia, pendidikan anak bangsa tak boleh terhenti hanya karena keadaan ekonomi yang tidak stabil.

Selanjutnya, program School Kit kedua terealisasi di Masjid Darul Muttaqin Lumpangan, dengan menyasar anak yatim dan piatu. Seperti pembagian paket sebelumnya, para penerima merupakan rekomendasi dari pengurus masjid yang memenuhi kategori sesuai syarat program.
“Recehan-recehan yang kami kumpulkan sepenuhnya kami pergunakan untuk kepentingan umat. Jumlahnya terbatas dan tidak besar seperti bantuan pemerintah pada umumnya. Tapi jangan lihat jumlahnya, lihat nilai ibadah di dalamnya,” tutur Taqwin, 12 Maret 2026.
Karena angka rupiahnya tak fantastis, Taqwin mengajak masyarakat agar tak sekadar melihat besar kecilnya bantuan, tetapi keinginan dan nilainya, terlebih di bulan Ramadan yang penuh keberkahan.
Ia juga bercerita dan mengakui Lazismu Bantaeng masih jauh dari kata mapan sebagai lembaga filantropi, namun karena anjuran agama, dan amanat organisasi, Lazismu harus berbagi baik di waktu lapang maupun sempit.
Langkah Lazismu ini, kata dia, bukan sekadar rutinitas filantropi. Ia menyinggung tragedi memilukan di NTT beberapa waktu lalu, di mana seorang anak secara sadar mengakhiri hidupnya karena keterbatasan alat sekolah.
Peristiwa itu menjadi salah satu alasan kuat Lazismu Bantaeng memilih Program School Kit yang harus terealisasi selama Ramadan 1447 H. Menurut Taqwin, hal itu tidak boleh terjadi di daerah di mana Lazismu eksis, termasuk Bantaeng.
“Cukup ironis, ada anak kita di NTT yang mengakhiri hidupnya hanya karena kekurangan alat sekolah. Lazismu mengupayakan hal itu tidak terjadi di Bantaeng,” tandas Taqwin.
Selain penyaluran zakat dan school kit, Lazismu juga menunjukkan kepedulian selama tiga hari berturut-turut, mulai tanggal 16 hingga 18 Maret, tim bergerak menyisir sudut-sudut jalan kota mendistribusikan paket Tebar Takjil.
Program ini menggandeng kader-kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), dengan menyalurkan paket dalam bentuk makanan berat. Target utamanya adalah tukang becak, petugas kebersihan, hingga sejumlah pedagang kaki lima.

Menariknya, rencana aksi ini lahir dari gerakan kolektif para kader Muhammadiyah yang menyumbang secara sukarela. Semangat ini menegaskan satu hal, Ramadan selalu membuka hati dan pikiran untuk menumbuhkan spirit kepedulian sosial.
“Jadi teman-teman mengusulkan di group WhatsApp, tak butuh waktu lama, dananya sudah cukup untuk berbagi selama tiga hari itu,” kata Taqwin.
“Terima kasih banyak para kader Muhammadiyah Bantaeng, bantuan bagi para pekerja sektor informal itu membantu meringankan beban pengeluaran harian,” tambah Taqwin.
Lazismu Bantaeng bergerak cepat memastikan amanah zakat masyarakat sampai ke tangan yang berhak. Selama dua hari, terhitung sejak Rabu hingga Kamis, tim terjun langsung menyisir pelosok wilayah untuk menyalurkan zakat fitrah yang telah terhimpun.
Bukan tanpa persiapan, Taqwin menekankan akurasi penerima menjadi prioritas utama. Data-data mustahik (penerima zakat) dihimpun secara berlapis, mulai dari laporan kader di tingkat kecamatan hingga pelosok desa.
“Penyaluran kami lakukan selama dua hari. Data-data penerima ini merupakan hasil kurasi dari teman-teman kader di setiap kecamatan dan desa agar bantuan benar-benar tepat sasaran,” kata dia.
Saat penyaluran, ada hal yang menyentuh nurani tim di lapangan. Ketika memasuki kawasan Desa Bonto Karaeng, tim melihat kehidupan beberapa warga yang cukup memprihatinkan.
Beberapa warga di sana diketahui bertahan hidup tanpa memiliki lahan garapan. Ironisnya, mereka menempati hunian yang hanya sekadar cukup untuk berteduh dari panas dan hujan, menyiratkan ketimpangan yang tak tersentuh kebijaksanaan para pelayan masyarakat: Kades hingga Kepala Daerah.
“Salah satu momen yang membuat kami terenyuh adalah saat bertemu warga di Desa Bonto Karaeng. Tinggal di hunian alakadarnya dengan akses yang tidak ramah untuk warga usia paruh baya,” kata Taqwin haru.

Temuan di lapangan ini, kata dia, tidak hanya menjadi catatan bagi lembaga filantropi, tetapi juga menjadi “alarm” bagi pemangku kebijakan. Penyaluran zakat tahun ini menjadi momen refleksi tentang pentingnya penanganan kemiskinan secara sistemik.
“Perlu ada sinergi dan perhatian khusus dari pemerintah daerah, terutama dalam memberikan intervensi bagi warga yang masuk dalam kategori miskin ekstrem,” tutur dia.
“Penyaluran zakat tahun ini benar-benar membuka mata dan pikiran kami. Penting bagi pemerintah untuk memberikan perhatian khusus bagi warga dengan kategori miskin ekstrem agar mereka bisa keluar dari jerat kesulitan ini,” tambah Taqwin.
Di balik angka-angka itu, Taqwin menyebut giat Lazismu selama Ramadan menguatkan kepekaan sosial. Ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat Bantaeng untuk menjadikan zakat sebagai instrumen pendongkrak kesejahteraan, bukan sekadar kewajiban tahunan.
“Ayok warga Muhammadiyah Bantaeng, kepekaan sosial kita ditempa selama Ramadan. Mari sama-sama kita wujudkan kesejahteraan di akar rumput. Pemberdayaan zakat adalah kunci untuk membantu saudara-saudara kita,” ajak dia.
Ke depan, Lazismu Bantaeng berkomitmen untuk terus mendorong penyaluran zakat yang lebih produktif, seperti dukungan sektor pendidikan, hingga layanan kesehatan dan korban bencana bagi warga yang membutuhkan.
Meski seluruh program berhasil direalisasikan, ia memberikan catatan kritis sebagai bahan evaluasi internal. Taqwin mengakui bahwa capaian tahun ini belum mencapai titik maksimal.
“Kami menyadari tahun ini ada keterbatasan, mulai dari aspek sumber daya manusia (SDM) hingga sosialisasi yang kurang masif. Ini menjadi catatan penting bagi kami untuk meningkatkan pelayanan ke depan,” tandas Taqwin.
Editor: Agus Umar Dani