Makassar – Wali Kota (Walkot) Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi menyebut keteladan adalah kunci bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dalam membina kader. Mempertahankan eksistensi organisasi tak sekadar memperhitungkan jumlah kader, tetapi juga perilaku dan kualitas pikiran.
Appi menyampaikan itu saat sambutan pada Pembukaan Darul Arqam Madya (DAM) dan Pelatihan Instruktur Dasar (PID) di Aula Kantor Daerah DPD-RI Sulawesi Selatan (Sulsel), Ahad, 29 Maret 2026. Ia juga menilai kader IMM berperan strategis mendorong perubahan sosial dan pembangunan daerah.
Caranya, kata dia, kader IMM bisa mengutarakan ide dan gagasannya kepada Pemerintah Kota Makassar. Catatannya, usulannya harus berupa gagasan konstruktif dengan basis data yang konkret.
Agar peran-peran mahasiswa bisa ditampung, Appi mengeklaim kepemimpinannya di Kota Makassar membuka ruang kolaborasi, termasuk kepada kader-kader IMM se-Kota Makassar.
“Pemerintah Kota Makassar membuka ruang seluas-luasnya untuk bersama-sama berkolaborasi dalam menciptakan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Appi.
Lebih lanjut, dia menyampaikan pesan yang dikhususkan kepada para calon peserta PID tentang pentingnya regenerasi dan peran instruktur dalam organisasi.
“Menjadi instruktur itu tidak mudah. Dibutuhkan kemampuan, keteladanan, serta komitmen yang kuat untuk mendidik dan membina kader agar menjadi pribadi yang unggul,” tadas dia.
Seirama dengan Appi, Ketua DPD IMM Sulsel, Adrian memaparkan perkembangan instruktur dasar IMM menunjukkan tren positif. Tercatat, hingga tahun 2026, sebanyak 235 instruktur dasar baru lahir melalui proses kaderisasi yang berkelanjutan.
“Sampai pada hari ini sudah ada instruktur dasar baru sebanyak 235 orang. Gerakan kaderisasi ini, bagaimanapun caranya dan dalam situasi apa pun yang kita hadapi, proses perkaderan tidak boleh berhenti,” ucap Adrian.
Saat ini, ia menekankan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut IMM untuk menjaga konsistensi dalam melakukan kaderisasi yang berkualitas. Menurut dia, keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari kuantitas kader, tetapi juga dari kualitas pemikiran, integritas, serta kemampuan kader dalam menjawab persoalan umat dan bangsa.
Gayung bersambut, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Makassar, Iqbal Samad, dalam kesempatan tersebut mengapresiasi tema yang diangkat dalam kegiatan ini: Fresh Ijtihad, yang dinilai relevan dengan kebutuhan zaman. Namun demikian, ia menegaskan bahwa semangat Fresh Ijtihad harus dibarengi dengan kemampuan fresh think di kalangan kader IMM.
“Tema yang diangkat adalah Fresh Ijtihad, namun selain itu kader-kader IMM perlu menghadirkan yang namanya Fresh Think. Pengetahuan-pengetahuan kader harus terus diperbarui agar mampu beradaptasi dan memberikan solusi atas dinamika yang berkembang di masyarakat,” ujar dia.
Ia juga menambahkan bahwa kader IMM dituntut untuk tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga pembaharu yang mampu menghadirkan gagasan-gagasan segar serta inovatif dalam berbagai lini kehidupan, baik dalam ranah keilmuan, sosial, maupun keumatan.
Iqbal juga berpesan agar DAM dan PID tidak hanya menjadi forum formalitas semata, tetapi mampu menjadi ruang pembentukan karakter, penguatan ideologi, serta peningkatan kapasitas kader IMM secara menyeluruh.
Editor: (AUD)