Portaltimur.id, Bantaeng – Komunitas PRINSIP.ID secara resmi memulai rangkaian program pengabdian masyarakat bertajuk NALA (Nyalakan Aksi, Lampaui Ambisi) Batch 7 di Dusun Parring-Parring, Desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Ahad (19/7/2026), tepatnya di Masjid Jabal Nur.
Pembukaan kegiatan ini melibatkan jajaran pengurus, perwakilan pemerintah setempat, pihak sekolah SDN No. 35 Lannying kelas jauh Parring-parring, warga desa, serta puluhan relawan (volunteer) dari berbagai perguruan tinggi di Kota Makassar.
Para relawan yang terlibat dalam pengabdian kali ini berasal dari lintas kampus di Makassar, di antaranya Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Universitas Megarezky, hingga Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP).
Kehadiran tim pengabdian mendapat respons positif dari Arifin, yang hadir mewakili jajaran sekolah dan pemerintah setempat, sekaligus secara resmi membuka kegiatan.
“Kami mengucapkan selamat datang kepada adik-adik dari komunitas PRINSIP.ID. Semoga program yang dijalankan di sekolah ini dapat memberikan manfaat bagi siswa-siswi kami dan juga menjadi pengalaman berharga bagi para relawan,” kata Arifin.
Program pengabdian masyarakat bukan sekadar rutinitas penugasan berkala, melainkan sebuah ikhtiar berkelanjutan untuk membangun harapan melalui sektor pendidikan di wilayah pelosok.
Pendiri (Founder) PRINSIP.ID, Jabal Nur, menyampaikan itu saat sambutan pembukaan pengabdian. Jabal menekankan bahwa kehadiran relawan di tengah masyarakat selama 10 hari memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar pelaksanaan program.
“Giat kita adalah upaya bersama membangun harapan melalui pendidikan. Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi bersama pemerintah dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak-anak di desa,” ujar Jabal.
Jabal turut mengingatkan para relawan untuk menanggalkan persepsi superioritas saat berinteraksi dengan warga lokal. Menurutnya, proses pengabdian adalah ruang pertukaran nilai dan pembelajaran hidup.
“Kepada para volunteer, saya mengingatkan bahwa mereka datang bukan untuk menjadi pahlawan, tapi untuk belajar, menghargai kehidupan masyarakat, dan meninggalkan manfaat yang bisa terus dirasakan setelah mereka pulang,” tutur dia.
Soal penentuan lokasi pengabdian yang kembali menempatkan Bantaeng sebagai fokus kegiatan, Jabal meluruskan pandangan umum terkait pemilihan wilayah sasaran. Meski kegiatan di Kabupaten Bantaeng telah berlangsung sebanyak tiga kali, lokasi spesifik yang disasar senantiasa berganti setiap periodenya.
“Setiap tahun kami membuka usulan lokasi dari berbagai pihak, kemudian melakukan survei lapangan menggunakan instrumen penilaian yang mencakup beberapa indikator, seperti akses terhadap pendidikan, kondisi fasilitas sekolah, kebutuhan masyarakat, serta dukungan pemerintah dan warga setempat,” jelas Jabal.
Hasil asesmen lapangan tersebut kemudian dimusyawarahkan oleh tim internal guna menentukan wilayah dengan tingkat prioritas tertinggi. Jabal menegaskan, keterpilihan beberapa titik di Bantaeng murni didasarkan pada skor kebutuhan pendampingan pendidikan yang masih tinggi, bukan karena keterbatasan fokus geografis.
“Ke depan, kami tetap terbuka untuk menjangkau daerah lain di Sulawesi Selatan selama memenuhi kriteria dan kebutuhan yang telah kami tetapkan,” tambah dia.

Di balik keberlanjutan program pengabdian PRINSIP.ID, ada juga transformasi tata kelola organisasi yang tengah dijalankan. Jabal menuturkan bahwa fokus utamanya kini bergeser dari keterlibatan teknis di lapangan menuju penguatan sistem keorganisasian secara struktural.
Ia menyebut PRINSIP.ID mengambil langkah itu untuk memastikan keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang tanpa bergantung pada satu figur saja.
“Motivasi saya bukan lagi memastikan saya selalu ada di setiap kegiatan, tetapi memastikan PRINSIP.ID tetap berjalan meskipun suatu hari saya tidak lagi berada di garis depan. Saya percaya organisasi yang sehat bukan bergantung pada satu orang, melainkan pada sistem yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru,” tegas Jabal.
Beberapa tahun terakhir, manajemen PRINSIP.ID berfokus pada pembentukan struktur kepengurusan, tata kelola manajemen, pola pembinaan relawan, hingga pembagian peran yang akuntabel. Jabal kini lebih banyak mengambil peran pendampingan melalui monitoring dan evaluasi bersama tim manajemen, serta hadir pada momen-momen strategis seperti pembukaan dan penutupan kegiatan.
Ia memproyeksikan PRINSIP.ID tidak hanya menjadi wadah pengabdian sosial bagi masyarakat desa, tetapi juga laboratorium kepemimpinan bagi para pemuda yang terlibat di dalamnya.
“Di sini mereka tidak hanya belajar mengabdi kepada masyarakat, tetapi juga belajar memimpin, berkomunikasi, bekerja sama, dan bertanggung jawab. Harapan saya, setelah selesai menjadi volunteer, mereka membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi juga karakter dan pengalaman yang berguna,” pungkas Jabal.
Editor: AUD