Guru di Bantaeng Diduga Aniaya Murid Hingga Mata Kanan Lebam

Potret sekolah SD Inpres Kampung Parang. (Istimewa)

Bantaeng – Siswa kelas 2 SD Inpres Kampung Parang, Kecamatan Eremerasa, Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), Abyan Nandana (8), mengaku dianiaya oleh oknum guru berinisial H hingga mengalami luka lebam di area mata. Orang tua korban, NPL (30), merasa keberatan atas insiden tersebut dan telah melaporkan kejadian yang dialami anaknya itu ke pihak berwajib.

Awalnya, kata NPL, anaknya memang bermain petasan saat sedang belajar di kelas. Bunyi ledakan petasan itu lalu membuat guru yang sedang mengajar kaget dan spontan mendorong kepala Abyan ke meja.

“Memang anakku main petasan sampai meletus habis itu gurunya kaget setelah itu dia tarik saya punya anak dibenturkan ke meja dan itu banyak teman-temannya yang saksikan. Keluarga sudah laporkan ke polisi sisa tunggu hasil visum keluar,” kata ibu korban, NPL saat dikonfirmasi Portaltimur, Senin 17 Maret 2025.

NPL menyebut beberapa teman korban menjadi saksi atas kejadian tersebut. Ia yang saat ini tengah berada di Malaysia awalnya mendapat laporan dari pihak keluarga yang juga satu sekolah dengan korban. Menurut laporan yang diterima, korban sempat mendapat ancaman dari beberapa guru untuk tidak melaporkan insiden itu kepada keluarga.

“Cuma kalau memang kondisinya sekarang teman-temannya itu tidak ada yang berani mengaku kalau mereka lihat itu bisa jadi ada tekanan karena sebelum anak saya pulang kerumah kata sepupunya yang satu sekolah dengan anak saya mengatakan kalau gurunya yang lain datangi anak saya lihat kondisi matanya sambil berkata kalau kau pulang ke rumahmu jangan kau melapor ke orang tuamu ya,” jelas dia.

Tak terima dengan perlakuan intimidasi itu, ia meminta pemerintah dan pihak berwenang mengusut tuntas kejadian tersebut. Selain untuk memperoleh keadilan bagi anaknya, ia juga tak mau kekerasan serupa menimpa murid lainnya di sekolah itu.

“Harapanku sama pemerintah saya hanya minta keadilan seadil-adilnya supaya kedepannya tidak ada lagi anak yang diperlakukan seperti itu. Bukan saya hanya membela anakku tapi sebagai orang tua tidak ingin melihat anaknya diperlakukan seperti itu cukup saya yang rasakan anakku di perlakukan demikian,” harap dia.

Ia juga menduga ada pihak-pihak tertentu yang secara sengaja menyebar isu miring untuk membalikkan fakta. Sebab, kabar penganiayaan anaknya telah beredar di sosial media.

“Kalau ada cerita lain-lain lagi itu orang sudah mengada-ada membolak-balikkan fakta yang ada,” tandas dia.

Kepala Sekolah Tepis Isu Penganiayaan

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Sekolah SD Inpres Kampung Parang, Syahrul membantah isu dugaan penganiayaan yang melibatkan guru dari sekolahnya itu. Ia menceritakan kronologi berdasarkan informasi yang telah ia himpun dari guru terkait dan murid yang hadir saat kejadian.

“Kronologinya menurut teman-temannya dan pihak guru terkait kejadian tersebut kami coba himpun, awalnya anak tersebut membakar petasan yang ledakannya tiga kali pada saat proses belajar-mengajar mengakibatkan guru yang sementara menulis di papan tulis kaget hingga mendatangi bangku anak tersebut dalam keadaan gemetar dengan refleks memegang kepala anak tersebut yang mencoba menghindar terjadilah area pelipis alisnya anak ini terbentur ke meja mengakibatkan lebam,” kata Syahrul saat ditemui di SD Inpres Kampung Parang, Selasa, 18 Maret 2025.

Ia sendiri mengaku mengetahui bahwa isu tentang penganiayaan itu telah tersebar di berbagai platform sosial media. Namun Syahrul meminta agar orang-orang menahan diri dan tidak berspekulasi berlebihan.

“Saya kira kejadian yang menimpa sekolah kami ini sampai viral di Facebook masyarakat perlu kiranya menyimpulkan informasi antara dua pihak belum lagi komentar-komentar yang menyudutkan guru,” ujar dia.

Mewakili sekolah, ia terbuka untuk berdialog dengan pihak keluarga Abyan. Sebelumnya, kata dia, pihak berwenang juga telah menyambangi sekolah untuk meminta keterangan.

“Atas kejadian tersebut ini menjadi pembelajaran, kami pihak sekolah bersedia membuka ruang dialog atau mediasi jika pihak siswa atau keluarganya merasa keberatan dengan kesimpulan tersebut, tadi dinas pendidikan dan polisi sudah datang kami sudah memberikan keterangan jadi kami terbuka,” ungkap Syahrul.

“Kejadian tersebut jujur saja sangat disayangkan apalagi berita-berita yang berbeda seolah-olah sepenuhnya dilimpahkan ke sekolah kami,” tambah dia.

Polisi dan Disdik Belum Respons

Berdasarkan klaim Kepala Sekolah SD Inpres Kampung Parang, pihaknya telah dimintai keterangan oleh seorang polisi dan juga perwakilan Dinas Pendidikan Bantaeng. Sehingga, wartawan Portaltimur mengonfirmasi Kepala Unit (Kanit) PPA Satreskrim Polres Bantaeng, Aipda Haerul Ihsan via WhatsApp pada pukul 08.56 WITA, Rabu, 19 Maret 2025, namun tak mendapat respons balik.

Hal serupa juga telah dilakukan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bantaeng, Muslimin, tepatnya pada pada pukul 16.46 WITA, Selasa, 18 Maret 2025. Namun, hingga tengga waktu naskah ini habis, pihak terkait belum memberikan konfirmasi.

Editor: Agus Umar Dani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga: