Ketua PDM Bantaeng Lantik 2 Kepsek Definitif dan 1 Plt, Tekankan Keberlanjutan-Peningkatan

Pelantikan bersama Kepala Sekolah SMP Ahlu Shuffah Karatuang, SMP Muhammadiyah Bateballa, dan Plt Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Bantaeng. (Istimewa)

Bantaeng – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantaeng, Samsud Samad secara resmi melantik dua kepala sekolah (Kepsek) definitif, yakni Abdul Jalil (SMP Muhammadiyah Ahlu Shuffah Karatuang) dan Muh. Adnan (SMP Muhammadiyah Bateballa). Selain Jalil dan Adnan, Ketua PDM juga melantik Abd. Rahman sebagai pelaksana tugas (Plt) Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Bantaeng.

Dalam sambutannya, Samsud mengawali pesan dengan menghaturkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait, khususnya kepada para kepala sekolah sebelumnya, yang telah mengabdikan diri dengan tulus mengurusi sekolah milik Persyarikatan. Bagi dia, kepala sekolah sebelumnya telah menunjukkan komitmen menjaga eksistensi sekolah, baik bangunan fisik, maupun kualitas guru, tenaga kependidikan, dan siswa.

“Berkat mereka, semua berjalan dan tetap eksis sampai hari ini,” tutur dia usai Pelantikan di Lantai 2 MA Muhammadiyah Bantaeng, Senin, 12 Januari 2026.

Lebih lanjut, Kepala Sekolah SMKN 1 Bantaeng ini menekankan pentingnya para kepsek baru melanjutkan serangkaian upaya baik di institusi masing-masing. Salah satu caranya, bagi dia, kepsek harus menyatukan semua unsur dalam sekolah menjadi tim yang solid.

“Bentuk teamwork, untuk menunjang kemajuan sekolah. Sebab kepala sekolah tidak bisa berjalan sendiri, butuh dukungan dan kerja optimal semua pihak terkait, termasuk kami di PDM,” kata Samsud.

Kepala Sekolah
Plt Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Bantaeng (Abd. Rahman), Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Ahlu Shuffah Karatuang (Abd. Jalil), Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Bateballa (Muhammad Adnan). (Sumber foto: AUD/Portaltimur.id)

Catatan Ketua PDM Untuk Kepsek Baru

Sebagai tokoh yang telah berkiprah lama di bidang pendidikan, Samsud menekankan tiga hal untuk kepsek yang baru saja dilantik.

Pertama, kata dia, adalah menyadari tugas. “Tugas ini merupakan hal mendasar pada diri saudara untuk menetapkan visi, dan merumuskan misi sekolah. Mau dibawa kemana sekolah, tentu mengacu pada visi dan misi,” kata dia.

Kedua, Samsud menekankan tanggung jawab. “Saya selalu menyampaikan, kita bisa berbuat banyak kalau ada keikhlasan dan ketulusan,” kata dia. Alasannya adalah sekolah Muhammadiyah di Bantaeng, khususnya SMP Ahlu Shuffah dan SMP Bateballa, belum mandiri secara finansial menyokong laju dan perkembangan institusi.

Ia lalu mengutip cerita tentang salah satu sekolah Muhammadiyah di Jawa Tengah, yang berkembang dan mencapai titik mandiri ekonomi.

“Saat pelatihan di Makassar beberapa waktu lalu, instruktur menyebut salah satu Cabang Muhammadiyah di Gembong yang memiliki aset berkisar satu miliar. Punya rumah sakit, universitas, dan amal usaha lainnya, termasuk pendidikan, sekolah-sekolah,” papar Samsud.

Ia optimis, sekolah Muhammadiyah di Bantaeng juga akan berjalan menuju kemandirian ekonomi. Catatannya, kepala sekolah harus mapan secara komunikasi lintas sektor, tak hanya internal Muhammadiyah, tetapi juga pihak lain, termasuk institusi resmi naungan pemerintah, dan pemangku kebijakan.

Ketiga, wewenang yang melekat. Samsud menekankan bahwa kepsek memiliki wewenang yang berbeda dengan unsur lainnya di sekolah. Mulai dari wewenang mengambil keputusan, mengatur kurikulum, dan mengelola staf.

“Wewenang itu harus digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan siswa,” tekan Samsud.

Khusus untuk SD Muhammadiyah, lokasinya yang berada di jantung kota sangat menguntungkan. Namun, Samsud menekankan poin penting yang perlu diprioritaskan.

“SD Muhammadiyah kita ini lokasinya sentral. Tapi hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah pihak sekolah, khususnya kepsek mesti menargetkan nilai atau poin plus,” tutur Samsud.

“Untuk bapak Rahman, harus mengejar nilai. Kalau di sekolah lain diminati karena ciri tertentu, maka kita juga harus menampakkan nilai utama yang tak dimiliki tempat lain. Tentu bukan hanya tugas pak Rahman, tapi kami juga,” sambung dia.

Terlebih, SD Muhammadiyah yang pada tahun 1989 masih bernama Mu’allimin, pernah dikunjungi khusus oleh Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang saat itu memiliki pengaruh kuat di Persyarikatan. Artinya, kepsek punya PR mengembalikan reputasi sekolah sebagai sentral pendidikan tingkat dasar di Bantaeng.

Samsud lalu menutup sambutannya dengan menyitir salah ayat Al-Qur’an yang kerap dilantukan oleh Ketua PWM Sulsel, Ambo Asse. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Allah, maka akan kutunjukkan jalan-jalan kami. Catatannya kita harus sabar, kompak dan kolaborasi,” tandas dia.

Editor: Agus Umar Dani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga: