Cuit Koster Soal Musda Golkar Sulsel: Seperti Menarik Benang Dalam Tepung

Bendera Partai Golkar berkibar megah. (Ilustrasi)

Makassar – Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) hingga kini masih terkatung-katung tanpa kepastian. Sedianya, agenda besar untuk menentukan nakhoda baru Beringin Sulsel ini dijadwalkan terealisasi pada November 2025 lalu. Namun, hingga memasuki pertengahan 2026, hilal pelaksanaan Musda tak kunjung kelihatan.

Menanggapi keterlambatan yang berlarut-larut ini, Koordinator Steering Committee (SC) Musda Golkar Sulsel, Armin Mustamin Toputiri, angkat bicara. Ia mengabaikan kesan bahwa penundaan ini terjadi karena adanya konflik internal yang buntu. Sebaliknya, Armin menganalogikan situasi pelik ini bak peribahasa tua.

“Seperti menarik benang dalam tepung. Benangnya ditarik tak putus, tepungnya pula tak berhamburan,” ujar Armin melalui pesan WhatsApp, Senin, 15 Juni 2026.

Armin menjelaskan, adagium tersebut sangat tepat menggambarkan kondisi Golkar Sulsel saat ini. Partai besutan Bahlil Lahadalia di tingkat pusat ini justru sedang mengalami surplus kader mentereng di level daerah, sehingga proses penyaringan figur ketua membutuhkan kehati-hatian ekstra.

“Adagium itu bermakna Golkar Sulsel tak sulit mencari figur ketua karena punya segudang kader dengan prestasi mentereng. Justru yang rumit itu adalah keinginan untuk tidak meninggalkan kader, karena semuanya potensial,” jelas dia.

Menurut Armin, molornya jadwal Musda harus dimaklumi sebagai konsekuensi logis dari dinamika internal partai yang kaya akan stok pemimpin. Pihak panitia pengarah mengaku tidak ingin gegabah demi mengejar waktu, namun justru mengorbankan soliditas partai.

“Maklumilah Musda yang berlarut ini, sebagai konsekuensi logis bagi Golkar yang surplus kader potensial. Kami ingin Musda ini happy ending, semua kader adalah pemenang,” tambah Armin.

Kehati-hatian SC dalam meramu formula Musda kali ini rupanya bukan tanpa alasan. Golkar Sulsel tampaknya tengah dihantui trauma politik pasca-Pemilu 2024 lalu.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, dinamika internal Golkar Sulsel belakangan memang berjalan lamban akibat beberapa faktor krusial. Selain karena harus menunggu petunjuk teknis (juknis) dari DPP pasca-Munas, tarik-ulur kepentingan antar-faksi di Sulsel juga sempat menahan laju konsolidasi. Efek ekor jas pilkada serentak yang menyita energi kader di daerah turut andil memperpanjang daftar alasan penundaan ini.

Armin pun merefleksikan bahwa Musda kali ini harus menjadi pelajaran berharga. Ia mengingatkan kembali sejarah kelam di mana untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, Golkar kehilangan kursi Ketua DPRD Sulsel pada Pemilu 2024.

“Itupun musababnya karena kita (dulu) hanya fokus memilih calon ketua, menarik benang dalam tepung tanpa menimbang residunya. Kita meninggalkan tepung berhamburan,” tutur Armin.

Ia menegaskan, dampak dari ego faksional di masa lalu terbukti mahal harganya. Golkar Sulsel harus membayar dengan hilangnya mahkota kekuasaan di parlemen lokal yang sudah puluhan tahun digenggam.

“Dan untuk mengumpulkannya kembali (tepung yang berhamburan), kita butuh konsolidasi besar-besaran yang menguras energi. Kali ini, kami tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama,” kunci dia.

Editor: (AUD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga: