Makassar – Tim peneliti dari Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar diskusi kelompok terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) bersama jurnalis media di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Kolaborasi ini diinisiasi untuk menyusun panduan pemberitaan isu perubahan iklim yang lebih efektif, edukatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Ketua tim peneliti UNM, Yusri, mengungkapkan bahwa media massa memegang peran yang sangat strategis dalam membangun kesadaran publik terhadap isu lingkungan. Menurutnya, perubahan iklim kini bukan lagi sekadar isu lingkungan biasa, melainkan tantangan global sekaligus agenda prioritas pemerintah.
“Media memiliki kekuatan untuk membentuk cara masyarakat memahami suatu persoalan. Oleh karena itu, pemberitaan mengenai perubahan iklim perlu dikemas secara menarik, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Yusri usai kegiatan, Sabtu 4 Juli 2026.
Yusri menambahkan, pengemasan berita yang tepat tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat ke arah yang lebih hijau.
FGD ini melibatkan 15 jurnalis dari berbagai lembaga media di Sulsel, yang berpengalaman dalam peliputan isu publik. Kehadiran para praktisi media ini diharapkan dapat memberikan masukan riil berdasarkan dinamika di lapangan.
Salah satu tantangan terbesar yang dibahas dalam diskusi tersebut adalah bagaimana menjaga isu perubahan iklim tetap mendapat ruang di tengah dominasi pemberitaan politik, kriminalitas, dan hiburan.
Dalam ruang kolaborasi ini, para akademisi dan jurnalis membedah berbagai aspek ruang redaksi, mulai dari proses penentuan nilai berita (news value), pemilihan sudut pandang (angle) yang menarik, dan menyederhanaan informasi ilmiah agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Dari hasil diskusi, para jurnalis sepakat bahwa ada beberapa strategi yang bisa digunakan agar isu perubahan iklim lebih memikat pembaca.
Salah satunya adalah dengan menonjolkan pendekatan human interest dan mengaitkan dampak langsung perubahan iklim dengan kehidupan masyarakat lokal. Selain itu, pemanfaatan data yang kredibel serta fokus pada narasi solusi atau praktik baik (good practices) dinilai lebih menginspirasi publik ketimbang sekadar memaparkan ancaman bencana.
Sebagai informasi, proyek penyusunan panduan ini merupakan bagian dari program penelitian dosen FBS UNM yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Melalui luaran penelitian ini, tim UNM berharap panduan yang dihasilkan dapat menjadi referensi valid bagi insan pers untuk menghadirkan jurnalisme iklim yang akurat. Langkah ini juga diharapkan mampu memperkuat peran media sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyukseskan pembangunan berkelanjutan.
Editor: (AUD)