Melihat Kiprah Aisyiyah Bantaeng dari Kacamata Muhammadiyah dan Pemerintah Daerah

Wakil Ketua PDM Bantaeng, Nurdin Halim saat sambutan pada resepsi milad Aisuyiyah Bantaeng yang ke 109 tahun di Balai Kartini. (Istimewa)

Portaltimur.id, Bantaeng – Di balik khidmatnya perayaan Milad ke-109 Aisyiyah tingkat Kabupaten Bantaeng, terselip decak kagum sekaligus kesadaran kolektif akan pentingnya kolaborasi pembangunan daerah. Momentum perayaan ini tidak sekadar ajang seremonial refleksi sejarah panjang organisasi, tetapi juga ruang apresiasi dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pemerintah Kabupaten Bantaeng atas sumbangsih nyata kaum perempuan dalam merawat peradaban dan kelestarian alam di Butta Toa.

Wakil Ketua PDM Bantaeng, Nurdin Halim, dalam sambutannya menggarisbawahi akar historis Aisyiyah yang kokoh. Lahir pada tahun 1917, keberadaan organisasi ini dalam lingkup persyarikatan Muhammadiyah terbukti menjadi bagian tak terpisahkan dari barisan jemaah yang mengawal dan membidani lahirnya kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Sejarah mencatat, sedikitnya ada dua tokoh besar perempuan Aisyiyah yang secara nyata berkontribusi memelopori gerakan kemerdekaan nasional.

Namun, suasana Balai Kartini yang semula formal seketika mencair saat Nurdin menyoroti prosesi kelulusan lembaganya kaum lansia. “Tadi ketika panitia membacakan SK alumni Senior School, sempat kami dari saff laki-laki ini melotot. Disebut Senior School, dalam konsep umum kita kan setara SLTA. Ternyata saya dibisik kalau mereka yang wisuda hari ini memang sudah lanjut usia,” ujar Nurdin.

Melanjutkan kelakarnya, Nurdin menambahkan bahwa para wisudawati senior tersebut merupakan sosok-sosok yang luar biasa tangguh dalam domestik keluarga. “Meskipun sudah berstatus lansia, selama 40 tahun terakhir merekalah ini yang selalu mengganggu tidurnya para pria, pakarannu-rannu (membahagiakan),” canda Nurdin disambut tawa para hadirin.

Lebih jauh, ia mengapresiasi pemilihan nomenklatur Senior Care atau Senior School. Penggunaan istilah tersebut menjadi penanda bahwa meski usia biologis terus bertambah, semangat dalam mengabdi dan berdakwah tidak boleh surut. Nurdin kembali berkelakar ketika mengamati langkah fisik para wisudawati saat prosesi naik ke atas panggung utama.

“Meskipun di antara wisudawati itu sudah ada yang dipampang naik ke panggung badannya agak gemetar, itu adalah tanda alamiah. Semangat boleh saja tetap besar dan berkobar, tapi sudah ada bagian persendian yang sudah dol,” cetusnya berseloroh, memancing tawa seisi ruangan.

Di balik candaannya itu, ia menyelipkan pesan bahwa sifat dasar manusia adalah saling membutuhkan, dan pertolongan dari sesama akan selalu dinantikan dalam kehidupan sosial.

Wisudawati SC
Wisudawati Senior Care School saat resepsi Milad Aisyiyah ke 109 tahun di Balai Kartini. (Istimewa)

Bagi PDM Bantaeng, dedikasi Aisyiyah merupakan cerminan nyata dari konstruksi karakter positif yang konsisten dirawat. Nurdin memuji kebijakan panitia yang mewajibkan penggunaan tumbler atau botol minum mandiri di lingkungan sebagai aksi konkret yang responsif terhadap situasi wilayah. Pasalnya, pemerintah daerah baru saja mengeluarkan imbauan resmi guna mengantisipasi dampak musim kemarau dan cuaca panas yang mulai menyengat di kawasan Bantaeng.

“Sikap responsif Aisyiyah ini merupakan langkah nyata dalam mitigasi pemanasan global (global warming). Ini bukan sekedar teori, melainkan satu tindakan kecil dan nyata untuk menyelamatkan bumi agar tetap lestari,” tegas Nurdin.

Apresiasi serupa mengalir dari jajaran eksekutif daerah, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Bantaeng, Muhammad Tafsir P, menyatakan rasa bangganya atas terselenggaranya milad satu abad lebih ini dengan begitu semarak namun tetap mengedukasi masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Tafsir turut memperkenalkan latar belakang dirinya yang memiliki kedekatan emosional mendalam dengan organisasi berlambang matahari bersinar itu. “Saya perlu mengenalkan diri bahwa saya ini juga merupakan kader Muhammadiyah. Saya alumni Unismuh Makassar dan pernah diamanahi jabatan sebagai pengurus Cabang Muhammadiyah Bissappu, yang waktu itu konsen utamanya mengurus pengembangan perpustakaan,” ungkap Tafsir disambut tepuk tangan.

Pemkab Bantaeng
Pj Sekda Bantaeng, Muhammad Tafsir P saat sambutan resepsi Milad Aisyiyah tingkat Bantaeng ke 109 tahun di Balai Kartini. (Istimewa)

Ia mengaku sangat terharu saat menyaksikan langsung pengukuhan alumni Senior Care School. Gerakan inklusi sosial ini dinilai sangat menginspirasi instansi pemerintahan dalam memandang potensi warga senior. Menurutnya, secara statistik angka usia boleh saja terus merangkak naik, namun semangat untuk mengurus kemaslahatan umat tidak boleh kendor.

Rekam jejak kontribusi Aisyiyah di bumi Bantaeng diakui Tafsir telah menyentuh berbagai sektor vital masyarakat. Berdasarkan pengalamannya saat memimpin Dinas Koperasi, Aisyiyah aktif melahirkan embrio koperasi fungsional dan mendorong pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasis perempuan. 

Kontribusi tersebut semakin lengkap dengan berdirinya Klinik Siti Khadijah Aisyiyah yang kini resmi melayani pasien BPJS Kesehatan, serta jaringan lembaga pendidikan anak usia dini (TK/PAUD) yang tersebar merata di seluruh kecamatan di Bantaeng.

“Pemerintah Kabupaten Bantaeng sangat mengapresiasi momentum milad ini. Kami berharap ke depan, rajutan kolaborasi dan sinergi antara Aisyiyah dengan pemerintah terus berjalan erat guna mendukung penuh visi dan misi pemerintah daerah mewujudkan Bantaeng yang maju, bangkit, dan religius,” pungkas Tafsir.

Editor: AUD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga: