Resepsi Milad Aisyiyah 109 Tahun di Bantaeng Tegaskan Komitmen Pelayanan Sosial-Kesehatan

Ketua PD Aisyiyah Bantaeng, Shaurawiyah Pakkanna saat sambutan resepsi Miladi Aisyiyah ke-109 Tahun di Balai Kartini. (Istimewa)

Portaltimur.id, Bantaeng – Gerakan dakwah Islam berkemajuan yang inklusif kian menemukan relevansinya di tengah dinamika sosial modern. Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Bantaeng meneguhkan komitmen tersebut melalui resepsi Milad Organisasi Sayap Perempuan Muhammadiyah ke-109 tingkat Kabupaten Bantaeng, Sabtu, 18 Juli 2026 di Gedung Balai Kartini.

Mengusung tema besar “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, momentum ini menjadi pembuktian historis bahwa ortom perempuan Muhammadiyah tertua di Indonesia ini tidak lagi sekadar bergerak di atas mimbar ceramah normatif, melainkan mewujud dalam aksi filantropi, ekologi, dan pemberdayaan riil di akar rumput.

Resepsi perayaan milad yang berlangsung khidmat ini merefleksikan transformasi gerakan dakwah bil-hal (tindakan nyata) yang melampaui sekat-sekat konvensional. Melalui rangkaian program strategis yang berkelanjutan, Aisyiyah Bantaeng secara konsisten menyasar persoalan krusial masyarakat, terutama dalam pemenuhan hak-hak kelompok rentan, lansia, pemulihan ekologis, hingga peningkatan aksesibilitas pelayanan kesehatan bermutu bagi warga pedesaan.

Ketua Panitia Pelaksana, Suryanti S menyampaikan itu saat laporan resmi, lalu memaparkan bahwa esensi dari tema milad tahun ini telah terwujud dalam perilaku organisasi yang ramah lingkungan. Panitia secara ketat menerapkan kebijakan nir-plastik dengan mewajibkan seluruh peserta membawa botol minum mandiri (tumbler) dan memfasilitasi pos air minum isi ulang di area acara.

“Kami memilih tidak membagikan air mineral kemasan plastik sekali pakai sebagai sebuah pesan ideologis. Langkah sederhana ini adalah wujud nyata kepedulian Aisyiyah terhadap kelestarian lingkungan hidup sekaligus dukungan konkret atas program Pemerintah Kabupaten Bantaeng dalam mereduksi timbulan sampah plastik. Dakwah Aisyiyah harus berdampak langsung pada kebaikan semesta,” ujar Suriyanti.

Ia menambahkan, sebelum puncak resepsi hari ini, safari perayaan milad telah bergulir marathon sejak 23 Juni hingga 10 Juli 2026. Rangkaian pengajian milad dilaksanakan secara bergilir di sembilan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) se-Kabupaten Bantaeng. Langkah ini dinilai efektif untuk mempererat ukhuwah sekaligus menyemarakkan syiar dakwah persyarikatan hingga ke pelosok. Tidak hanya spiritualitas, dimensi sosial-kesehatan juga disentuh lewat aksi pemeriksaan kesehatan gratis bagi para lansia yang dipusatkan di Klinik Siti Khadijah Aisyiyah Bantaeng yang berlokasi di Jalan Karaeng Kasia.

Puncaknya, momentum milad ke-109 ini juga ditandai dengan prosesi Wisuda Senior Care School yang meluluskan 23 orang peserta didik. Program edukasi khusus ini diinisiasi untuk merespons kebutuhan mendesak akan sistem pendukung bagi kelompok lanjut usia.

Senior Care
Pengukuhan wisudawati Senior Care oleh Ketua PW Aisyiyah Sulawesi Selatan, Mahmudah. (Istimewa)

“Dengan bekal kurikulum pendidikan holistik yang telah mereka terima, kami berharap para wisudawati ini mampu bertransformasi menjadi tenaga pendamping lansia yang profesional, penuh empati, dan berdaya guna di tengah keluarga maupun masyarakat,” kata Suriyanti.

Transformasi gerakan yang adaptif ini dibenarkan oleh Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Bantaeng, Shaurawiyah Pakkanna. Saat sambutan, ia menegaskan bahwa peta tantangan sosial ke depan kian kompleks, terutama menyangkut ketahanan ekonomi domestik perempuan dan perlindungan terhadap kelompok marginal. Aisyiyah Bantaeng, menurutnya, memilih hadir sebagai salah satu tameng pelindung sekaligus lokomotif pemberdayaan.

“Komitmen kami mutlak berada di sisi kelompok rentan. Melalui Sekolah Wirausaha Aisyiyah, kami memberikan kemandirian ekonomi. Melalui Senior School Day Care, kami memuliakan para lansia. Sementara pelatihan instruktur sempoa menargetkan penguatan kapasitas kognitif generasi penerus,” urai Shaurawiyah.

Kebijakan strategis mutakhir yang berhasil diraih adalah kelulusan verifikasi Klinik Siti Khadijah besutan PDA Bantaeng untuk resmi bekerja sama sebagai fasilitas kesehatan (faskes) mitra BPJS Kesehatan. Guna memperkuat capaian amal usaha ini, Shaurawiyah menyerukan imbauan mobilisasi sosial kepada segenap warga persyarikatan dan simpatisan.

“Sebagai langkah konkret mendukung kemandirian lembaga, saya mengajak seluruh hadirin untuk bergotong-royong memindahkan faskes tingkat pertama mereka ke Klinik Siti Khadijah Aisyiyah yang berlokasi di Jalan Karaeng Kasia. Ini adalah cara kita merawat dan membesarkan aset umat agar kemanfaatannya kembali kepada masyarakat luas,” tutur dia.

Arah baru dakwah ini mendapat legitimasi teologis dan kultural dari Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Sulawesi Selatan, Mahmudah. Akademisi ilmu bahasa Indonesia dari Universitas Negeri Makassar (UNM) ini meluruskan stigma keliru yang kerap disematkan oleh sebagian kalangan kepada organisasi perempuan ini.

“Pernah saya mendengar selentingan bahwa Aisyiyah sekarang sudah jarang berceramah. Saya tegaskan, bukan tidak lagi berceramah, tetapi Aisyiyah telah memperlebar jalurnya. Dakwah kita tidak lagi terkurung dalam batas-batas dinding mimbar masjid, melainkan meluas ke arah gerakan sosial transformatif dan pemberdayaan perempuan di semua level usia, khususnya para lansia,” cetus Mahmudah.

Aisyiyah Sulsel
Ketua PW Aisyiyah Sulawesi Selatan, Mahmudah. (Istimewa)

Ia menilai capaian Klinik Siti Khadijah Bantaeng yang sukses menembus standardisasi ketat BPJS Kesehatan adalah bukti sahih dari profesionalisme tata kelola organisasi. Klinik yang dahulu kerap dipandang sebelah mata atau berada di pinggiran layanan kesehatan publik, kini telah membuktikan diri siap melayani seluruh lapisan masyarakat Bantaeng dengan mutu yang tervalidasi.

Ilmuwan bahasa ini mengutip sebuah landasan filosofis gerakan Aisyiyah yang bersumber dari misi profetik kenabian. “Allah SWT berfirman bahwa tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘Alamin). Ayat ini adalah kompas ideologis Aisyiyah. Dakwah tidak boleh mandek pada tumpukan lisan, ia wajib diterjemahkan dalam kerja-kerja literasi, pencerahan peradaban, dan kepedulian sosial yang konkret,” urai dia.

Milad Aisyiyah
Pimpinan Daerah Muhammadiyah, dan jajaran pemerintah Kabupaten Bantaeng menghadiri resepsi Miladi Aisyiyah ke 109 tahun di Balai Kartini. (Istimewa)

Menutup sambutannya, Mahmudah mengingatkan esensi perjalanan panjang organisasi yang telah melewati kurun waktu satu abad lebih ini. Baginya, rekam jejak sejarah mencatat bahwa dakwah yang paling beresonansi kuat bukanlah dakwah yang sekadar nyaring diperdengarkan secara verbal, melainkan dakwah yang menorehkan manfaat paling masif bagi kemanusiaan.

“Tema milad ke-109 ini sejatinya adalah sebuah panggilan sejarah (historical calling) bagi seluruh kader Aisyiyah di Bantaeng agar senantiasa hadir sebagai pelaku aktif zaman, bukan penonton pasif. Aisyiyah tidak boleh cepat berpuas diri dan terjebak pada romantisme masa lalu dengan sekadar berucap ‘dulu begini, dulu begitu’. Kita harus terus melahirkan bukti, bertindak nyata, dan tiada henti menebar maslahat bagi kebaikan semesta,” pungkas dia.

Editor: AUD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga: