Oleh: Riza Puspita Sari
Opini – Fenomena unik sekaligus membingungkan tengah terjadi di pasar tenaga kerja kita saat ini. Kita tahu, setiap tahun perguruan tinggi melahirkan ribuan lulusan baru, dunia usaha terus berkembang, dan lowongan kerja bertebaran di jagat maya. Namun di saat yang sama, angka pengangguran tetap merayap naik, sementara para manajer Human Resources Department (HRD) tak henti-hentinya mengeluhkan sulitnya menemukan kandidat yang benar-benar pas.
Lompatan teknologi terutama hadirnya Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah merombak lanskap dunia kerja secara drastis dan melahirkan apa yang dikenal sebagai paradoks pasar kerja, yaitu sebuah titik temu yang kian sulit terwujud antara penyedia dan pencari kerja.
Akar persoalan ini sebenarnya jarang berpusat pada minimnya lowongan atau kurangnya potensi individu, melainkan bersumber dari strategi pencari kerja yang keliru dalam mengemas potensi diri serta ketidakpahaman atas mekanisme rekrutmen modern.
Bagi para pencari kerja, melangkah di era digital memerlukan kepekaan untuk membongkar berbagai titik buta yang kerap tak disadari. Salah satu kekeliruan yang paling sering terjadi adalah kebiasaan melakukan mass blasting, yaitu mengirimkan satu berkas resume yang sama ke ribuan posisi berbeda. Padahal setiap perusahaan memiliki kebutuhan yang khas, sehingga resume yang dibuat secara khusus dengan mengedepankan pengalaman serta keahlian relevan akan jauh lebih efektif.
Selain itu, resume yang terlalu panjang dan bertele-tele kerap menjadi batu sandungan. Di tengah serbuan ribuan berkas, rekruter hanya memiliki waktu beberapa detik untuk memindai dokumen, sehingga resume padat sepanjang satu halaman yang berfokus pada pencapaian nyata jauh lebih memikat.
Perubahan cara berjejaring juga perlu dicermati. Punya ribuan koneksi di LinkedIn tidak akan memberi dampak jika hubungannya bersifat pasif. Kuncinya ada pada relasi yang bermakna (meaningful connection) melalui interaksi nyata yang saling memberi nilai tambah.
Selain itu, pencari kerja juga kerap mengabaikan hidden job market peluang kerja berkualitas yang tak pernah dipajang di situs umum. Di titik inilah inisiatif seperti menyapa rekruter secara profesional (cold pitching) menjadi nilai tambah yang membedakan seorang pelamar dari kompetitornya. Saat berhasil dipanggil, penting untuk tidak memandang wawancara sebagai ujian lisan yang menakutkan atau obrolan santai tanpa arah, melainkan sebuah ruang diskusi dua arah di mana rekruter sangat menghargai kandidat yang berani bertukar pikiran dan mengajukan pertanyaan kritis.
Dalam menyusun riwayat kerja pun, pelamar kerap hanya mencantumkan daftar tugas lama tanpa menunjukkan dampak (impact) konkret dari pekerjaan tersebut, seraya melupakan etika kecil namun krusial seperti mengirimkan ucapan terima kasih pasca wawancara.
Tidak kalah penting, citra profesional di dunia nyata harus selaras dengan jejak digital di media sosial yang tidak melanggar etika maupun hukum. Ketika penolakan akhirnya datang, kegagalan mengelola emosi hanya akan menghambat pembenahan diri, padahal setiap penolakan adalah bahan evaluasi berharga untuk memperbaiki strategi berikutnya.
Di samping membenahi kekeliruan dalam melamar, persiapan menghadapi masa depan hingga tahun 2030 menuntut penguasaan keahlian yang tidak cukup hanya berpatokan pada aspek teknis. Industri masa depan sangat berburu talenta yang memiliki nalar kritis (critical thinking) untuk merumuskan solusi atas masalah kompleks, kelincahan beradaptasi dalam mempelajari hal baru, serta kecakapan digital untuk memanfaatkan teknologi secara produktif. Keterampilan ini perlu dipadukan dengan kemampuan komunikasi lintas budaya yang terstruktur dan persuasif, serta keberanian berpikir di luar pola umum (out-of-the-box) demi melahirkan inovasi baru.
Memenangkan persaingan kerja di era digital pada akhirnya menuntut perubahan pola pikir secara menyeluruh, sebab cara-cara lama tidak lagi mempan menghadapi dinamika pasar kerja saat ini. Dengan mengevaluasi kekeliruan melamar, membangun relasi berdampak, dan terus mengasah keahlian masa depan, seorang pencari kerja tidak hanya akan lebih mudah dilirik perusahaan, tetapi juga siap tumbuh menjadi talenta berharga yang dicari oleh industri.
Penulis adalah Sekretaris Jenderal DPP Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) & Dosen Prodi Ilmu Hukum Universitas Mulawarman
Editor: AUD