Portaltimur.id, Bantaeng – MTsS Muhammadiyah Bantaeng menyambut kedatangan Paul Bennetts, Life Coaching and Health Educator dari Help Indonesia Foundation, Senin 24 Agustus 2026.
Paul tidak datang sendiri. Ia didampingi empat rekannya untuk mengedukasi siswa mengenai bahaya rokok bagi kesehatan.
Tim Help Indonesia Foundation mengawali kegiatan dengan mengajak para siswa menyanyikan Mars Kesehatan. Lagu itu mengajarkan pola hidup sehat mulai kebiasaan makan sehat, olahraga, tidur cukup, sampai menghindari rokok dan alkohol.
Para siswa bernyanyi dan menari penuh antusias mengikuti petikan gitar dari tim yang mendampingi Paul. Mereka tampak senyum sumringah sepanjang lagu.
Usai bernyanyi, Paul memperlihatkan sejumlah contoh kasus penyakit parah akibat merokok. Mulai dari kanker bibir, kanker tenggorokan, hingga gambaran nyata kerusakan organ dalam yang terpapar asap rokok setiap hari.
“Merokok memang terasa nikmat di awal dan bikin tenang, tetapi rokok merenggut banyak hal dari kita. Rokok tidak hanya merusak kesehatan perokok, tetapi juga merugikan orang-orang di sekitarnya,” ujar Paul.
Di tengah sesi materi, Paul melempar pertanyaan kepada peserta mengenai alasan produsen rokok menyembunyikan bahaya produk mereka dari publik.
Salah satu siswa, Elsa Sakila Putri, langsung merespons pertanyaan tersebut. Elsa menyebut perusahaan rokok sengaja melakukan itu demi menjaga keuntungan finansial, sebab informasi dampak bahaya rokok bisa merusak omzet perusahaan.
“Perusahaan pasti takut rugi kalau membeberkan bahaya rokok,” kata Elsa.
Paul mengapresiasi jawaban Elsa dan mengajak seluruh peserta bertepuk tangan. Ia lantas melanjutkan pemaparannya mengenai kandungan berbahaya di dalam batang rokok.
“Rokok mengandung 4.000 bahan kimia beracun, 43 zat pemicu kanker, karbon monoksida, dan nikotin. Karbon monoksida merupakan gas mematikan, sedangkan nikotin memicu kecanduan,” tegas Paul.
Oleh karena itu, Paul meminta para siswa terus belajar dan memegang teguh satu prinsip: orang pintar tidak merokok. Ia juga mengingatkan para siswa untuk saling menjaga agar tidak ada yang tergiur mencoba rokok.
“Iklan rokok selalu meyakinkan bahwa ‘merokok itu beda, dan beda itu keren’. Di situlah kecerdikan industri rokok,” ungkap Paul.
Paul turut membeberkan harga rokok di Australia yang menyentuh angka Rp600 ribu hingga Rp700 ribu per bungkus. Angka tersebut membuktikan keseriusan pemerintah Australia dalam memutus rantai kecanduan rokok warga dan para pelajarnya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan MTsS Muhammadiyah Bantaeng, Muhammad Taqwin, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada Help Indonesia Foundation yang telah memilih sekolahnya sebagai lokasi sosialisasi.
“Ini kesempatan berharga bagi para siswa dan guru untuk menyerap edukasi bahaya rokok langsung dari para ahli,” tutur Taqwin.
Meski Paul menyampaikan materi menggunakan bahasa Inggris, Taqwin menilai cara bicaranya yang perlahan serta bantuan penerjemah membuat para siswa mudah menyerap materi.
“Anak-anak sangat cepat memahami materi. Buktinya, mereka aktif memberi respons balik saat Paul bertanya. Apalagi materi tayangannya melampirkan ilustrasi visual yang makin memudahkan siswa menangkap pesan,” jelas dia, yang juga pengajar mata pelajaran bahasa ingris di sekolah.

Namun, Taqwin menyadari sosialisasi singkat saja tidak cukup. Pihak sekolah berkomitmen melanjutkan pembinaan secara rutin melalui pendekatan harian dan mingguan.
“Lirik Mars Kesehatan tadi sangat menarik dan bisa kita jadikan pembiasaan usai apel pagi. Langkah ini efektif agar pesan bahaya rokok terus melekat di benak siswa,” kata Taqwin.
Taqwin menegaskan bahwa edukasi bahaya rokok wajib berlanjut ke aksi nyata. Menurutnya, pencegahan dini harus berawal dari teladan para guru.
“Guru di sekolah harus menjadi teladan utama yang tak boleh lelah mengedukasi serta mendampingi siswa. Edukasi yang konsisten akan melahirkan lingkungan sekolah yang sehat dan bersih dari asap rokok,” pungkas Taqwin.
Editor: AUD