Portaltimur.id, Makassar – Maraknya fenomena fashion-shaming atau tindakan menghakimi gaya berpakaian seseorang mendorong mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Fajar (Unifa) mengambil langkah nyata. Melalui Kelompok 2, mereka menggelar kampanye sosial bertajuk “Your Style, Your Story” untuk mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda.
Mengusung tema “Fashion as Self-Expression”, gerakan ini hadir merespons keresahan anak muda yang acapkali merasa kurang percaya diri akibat diskriminasi penampilan (fashion shaming). Di tengah gempuran tren busana yang masif, perbedaan gaya seringkali berujung pada penilaian negatif dari lingkungan sekitar.
Melalui narasi “Your Style, Your Story”, kampanye ini menegaskan bahwa pakaian bukan sekadar pemenuh kebutuhan fisik, melainkan media bagi seseorang untuk menunjukkan identitas, karakter, dan cerita personalnya.
“Perbedaan gaya berpakaian seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menghakimi. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan diri, dan setiap gaya memiliki cerita yang layak dihargai,” ujar Avril Easterina Daud, mewakili kelompoknya.
Kampanye sosial ini difokuskan pada masyarakat luas, kelompok anak muda, serta para penggiat media sosial yang aktif mengikuti perkembangan tren fashion. Platform digital dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana penyebaran pesan positif sekaligus ruang diskusi terbuka mengenai pentingnya saling menghargai ekspresi diri.
Sebagai agenda utama, tim pelaksana menggelar kegiatan produksi konten pada Kamis, 16 Juli 2026 di area Rooftop Mall Nipah, Makassar. Kegiatan tersebut menggandeng fashion influencer @Firstynovelline_ serta berkolaborasi dengan akun resmi Instagram Komunikasi Unifa.

Secara umum, gerakan “Your Style, Your Story” membawa tiga misi utama: Pertama Meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya toleransi terhadap keberagaman gaya berbusana. Kedua, Nir-perundungan (zero shaming), yakni mengikis stigma negatif serta kebiasaan menghakimi penampilan orang lain. Dan ketiga, komunikasi positif, mengaktifkan ruang dialog yang sehat dan inklusif di media sosial.
Mewakili koleganya, Avril Avril mengharapkan peran hari ini berpeluang menggeser cara pandang masyarakat terhadap kebebasan berbusana. Dalam giatnya, mereka mengusung pesan yang dalam: setiap orang berhak tampil beda, karena setiap gaya menyimpan ceritanya sendiri. (Rls)
Editor: AUD