Buka Acara Amil Camp, Ketua Lazismu Sulsel: Penyaluran Bantuan Tak Lagi Konsumtif, Harus Berdampak

Ketua Lazismu Sulsel, Mahmuddin saat sambutan dan membuka acara Amil Camp. (Rudianto)

Bantaeng, Portaltimur.id – Ketua Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Sulawesi Selatan menegaskan bahwa bantuan kepada delapan asnaf tidak boleh lagi hanya menyelesaikan masalah sementara, tetapi harus berdampak pada penguatan ekonomi mereka.

Ia menyampaikan itu saat sambutan pada kegiatan Amil Camp Lazismu Sulsel, di hadapan para peserta dari 22 kabupaten/kota, dan sejumlah pejabat setempat, Sabtu 22 Agustus 2026, di Pondok Pesantren Riyadus Shalihin Bantaeng.

“Kalau kita menyalurkan bantuan hanya untuk menghilangkan lapar dan dahaga mereka, hanya menunggu beberapa hari, mereka lapar lagi. Karena itu, di semua kegiatan Lazismu beberapa waktu belakangan selalu menyalurkan bantuan dalam bentuk pendanaan UMKM,” papar Mahmuddin.

Selanjutnya, guru besar UIN Alauddin Makassar ini menegaskan bahwa Amil Camp memadukan pembinaan profesional dan penguatan nilai kekaderan. Ia menyebut Amil Camp mengusung konsep 30 persen materi serius dan 70 persen permainan bermakna.

“Alhamdulillah ini adalah kegiatan perdana dan percontohan untuk Indonesia. Lazismu Sulsel telah menyanggupi arahan pimpinan pusat untuk menyelenggarakan amil camp di wilayah masing-masinh, dan saya kira kita telah menjadi contoh Amil Camp bagi Lazismu se-Indonesia,” ujar Mahmuddin

Ia juga menjelaskan bahwa Lazismu memiliki dua fokus utama dalam menjalankan fungsinya. Pertama, amil mendatangi warga mampu untuk menghimpun zakat sesuai perintah Al-Qur’an. Kedua, Lazismu menyalurkan dana tersebut untuk menuntaskan kemiskinan secara permanen.

“Uang di Lazismu hanya numpang lewat. Kami menyalurkan bantuan secara berdampak, bukan sekadar dana konsumtif. Tentu dengan manajerial yang terukur,” tegas dia.

Ia mencontohkan keberhasilan program dampak di Kabupaten Wajo. Lazismu Sulsel memberikan bantuan sumur bor untuk mengatasi kekeringan lahan pertanian warga. Hasilnya, para petani sukses mengairi tanaman jagung mereka.

Selain pelatihan amil, rangkaian acara juga mencakup Baitul Arqam bersama Majelis Pembinaan Kader (MPK). Menurut Mahmuddin, langkah ini bertujuan menguatkan dan menekankan kembali nilai kemuhammadiyahan kepada seluruh amil.

Amil Camp
Suasana Peserta Amil Camp saat pembukaan. (Rudianto)

Saat ini, Lazismu Sulsel mulai memprioritaskan agenda pelestarian lingkungan.

Besok, pengurus dijadwalkan menanam 300 bibit pohon durian di atas tanah wakaf Muhammadiyah. Program ini bertujuan mendukung konservasi alam sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat lokal.

Karena itu, di hadapan Pj Sekda Bantaeng, Mahmuddin mengimbau para muzakki agar tidak ragu mempercayakan wakaf dan zakat kepada Lazismu. Ia menjamin seluruh pengelolaan keuangan berlangsung transparan dan dapat diuji publik.

Kepercayaan publik terbukti dari capaian penghimpunan dana Lazismu Sulsel tahun lalu. Dari target nasional Rp16 miliar, Lazismu Sulsel berhasil mengumpulkan Rp20 miliar.

Capaian ini, kata Mahmuddin, menempatkan Lazismu Sulsel pada posisi kelima nasional dan posisi pertama di luar Pulau Jawa.

“Posisi pertama diraih Jawa Tengah karena menggalang dana subuh seribu rupiah per orang. Mari kita coba gerakan ini dari Bantaeng untuk menjadi contoh nasional,” pungkas Mahmuddin.

Editor: AUD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga: