Portaltimur.id, Bantaeng – SDS Muhammadiyah Bantaeng menyerahkan bantuan donasi untuk korban bencana alam gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Bantaeng, Ahad 23 Agustus 2026.
Seluruh dana bantuan tersebut terkumpul dari aksi penggalangan dana sukarela yang melibatkan murid kelas 1 hingga kelas 6, dengan total Rp129.700.
Kepala SDS Muhammadiyah Bantaeng, Abd. Rahman, menegaskan bahwa aksi sosial ini mengusung misi yang jauh lebih besar daripada sekadar mengumpulkan uang. Pihak sekolah memanfaatkan momen ini untuk mengajarkan kepedulian melalui tindakan nyata sejak dini.
“Pesan dasarnya, kami tidak sedang mengajarkan anak-anak menjadi kaya untuk kemudian berbagi. Kami sedang mengajarkan bahwa meskipun kita punya sedikit, kita tetap bisa peduli kepada orang lain,” ujar Rahman.
Dalam aksi tersebut, para siswa diajak melatih diri dengan menyisihkan sebagian uang jajan mereka untuk disumbangkan. Pihak sekolah melihat tindakan menahan keinginan jajan demi menolong sesama sebagai sarana latihan pengendalian diri yang berharga. Rahman menyebut memberi sebagai sajadah panjang menuju keabadian.
Ia menekankan pentingnya menanamkan pesan empati di atas nilai nominal donasi. Kehadiran bencana di NTT menjadi kesempatan berharga bagi anak-anak untuk mengambil peran sebagai pihak yang memberi bantuan.
Untuk membangun ekosistem yang kondusif, kepala sekolah dan para guru mengawali gerakan donasi ini sebagai teladan. Gerakan ini secara konsisten membentuk budaya kepedulian bersama, bukan ajang persaingan nominal.
“Jadi yang dibangun bukan budaya ‘siapa paling banyak donasinya’, melainkan budaya ‘siapa mau peduli’,” tegas dia.
Rahman mengingatkan para pendidik dan orang tua agar tidak hanya membatasi pengajaran empati pada teks di dalam buku, melainkan memberi ruang bagi anak untuk mempraktikkannya secara langsung. Menurutnya, ijazah berderet tidak akan berarti tanpa mengasah kepekaan sosial.
Uang receh yang dibawa para siswa menyimpan proses belajar yang mendalam tentang kepedulian, keikhlasan, dan rasa persaudaraan. Lewat penggalangan dana ini, SDS Muhammadiyah Bantaeng membuktikan komitmennya dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki empati tinggi terhadap sesama.
“Di SDS Muhammadiyah, kami tidak sedang mengajarkan anak-anak berapa rupiah yang harus mereka sumbangkan. Kami sedang mengajarkan bahwa sekecil apa pun yang kita punya, selalu ada ruang untuk berbagi. Karena pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya membuat anak pintar, tetapi membuatnya peduli kepada sesama,” pungkas Rahman.
Pihak Eksekutif Lazismu Bantaeng menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian dan kepekaan sosial yang ditunjukkan oleh keluarga besar SDS Muhammadiyah Bantaeng. Penyerahan donasi hasil swadaya para murid tersebut dinilai menjadi bukti nyata bahwa penanaman empati telah mengakar secara kuat di lingkungan sekolah.
Pengurus Eksekutif Lazismu Bantaeng, Aulia Azmat Sadik menyatakan bahwa dana bantuan yang terkumpul dari anak-anak sekolah dasar ini membawa amanah yang sangat bernilai. Pihaknya berkomitmen menyalurkan seluruh bantuan tersebut secara tepat sasaran demi meredam beban para korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya langkah SDS Muhammadiyah Bantaeng. Kejujuran dan keikhlasan yang terpancar dari donasi tabungan anak-anak kita ini memberikan nilai kebaikan yang luar biasa. Ini bukan sekadar bantuan material, melainkan pesan solidaritas yang hangat dari Bantaeng untuk saudara-saudara kita di NTT,” ujar Sadik.
Sadik juga menyoroti keterikatan batin serta peristiwa alam yang dialami warga Bantaeng saat bencana melanda. Ia menilai getaran gempa NTT yang sempat terasa hingga ke wilayah Bantaeng bukan sekadar fenomena seismik biasa, melainkan sebuah isyarat moral yang mengetuk nurani kemanusiaan.
“Getaran gempa NTT yang ikut merambat dan terasa hingga ke Bantaeng sejatinya menjadi ‘kode’ dari alam dan Sang Pencipta untuk kita semua. Peristiwa itu mengingatkan secara langsung bahwa duka mereka di sana adalah duka kita di sini. Guncangan yang kita rasakan merupakan panggilan agar kita tidak berdiam diri, melainkan bergerak mengulurkan tangan dan memberikan bantuan,” ungkap Habib.
Karena itu, Sadik berharap langkah inspiratif yang dipelopori oleh SDS Muhammadiyah Bantaeng ini dapat menggerakkan gelombang kepedulian yang lebih luas di tengah masyarakat.
“Penggalangan dana ini membuktikan bahwa semangat saling menopang sanggup menembus batas geografis demi meringankan beban sesama yang sedang tertimpa musibah,” tutup dia.
Diketahui, PP Muhammadiyah telah mengeluarkan instruksi agar semua kader menggalang bantuan untuk korban gempa di NTT. Lazismu Bantaeng adalah salah satu pengumpul donasi tingkat daerah, sebelum diserahkan kepada Lazismu Sulsel.
Editor: AUD